Menebus Kesalahan

http://www.fsialbiruni.org/wp-content/uploads/2019/07/IMG-20190728-WA0006.jpgMenebus Kesalahan

Wahsyi bin Harb adalah seorang budak kulit hitam dari Ethiopia milik Jubair bin Muth’am yang pamannya juga tewas di perang Badar dibunuh oleh Hamzah. Ia dijanjikan akan dibebaskan dari perbudakan, jika ia berhasil membalas dendam membunuh Hamzah. Hindun ikut menjanjikan hadiah-hadiah yang berlimpah jika ia berhasil membunuh Hamzah.
Wahsyi memang mempunyai keahlian melempar tombak dengan teknik Habsyi, tempat asalnya Habasyah, Afrika. Ia terus melatih kemampuannya itu. Tibalah saat perang Uhud berlangsung, Wahsyi tidak punya tujuan lain kecuali untuk membunuh Hamzah demi untuk kebebasannya dari perbudakan. Praktis ia tidak melakukan pertempuran dengan orang muslim lainnya kecuali hanya mengendap-endap mendekati Hamzah yang berperang bagai banteng mengamuk. Ia mencari kesempatan yang tepat untuk bisa melemparkan tombaknya.
Ketika kondisi berbalik dari kemenangan kaum muslim menjadi kekalahan, karena sebagian besar pemanah yang ditugaskan Nabi SAW menjaga dari sisi bukit turun untuk mengambil ghanimah, posisi Hamzah jadi terbuka. Seorang kafir Quraisy bernama Siba’ bin Abdul Uzza sedang melayani Hamzah bertarung, saat pedang Hamzah mengenai leher Siba’, saat itulah Wahsyi melemparkan tombaknya, mengenai pinggangnya hingga tembus ke depan. Hamzah sempat akan berdiri kemudian jatuh lagi dan meninggal. Wahsyi mencabut tombaknya dari tubuh Hamzah dan kembali dan menunggu di kemahnya. Ketika pertempuran usai, ia kembali ke Makkah bersama rombongan kaum kafir Quraisy. Atas keberhasilannya ini, Wahsyi memperoleh kebebasannya dari perbudakan.
Saat Fathul Mekkah, seperti kebanyakan orang yang mempunyai kesalahan besar terhadap Islam, Wahsyi pun berusaha melarikan diri, ia lari ke Thaif. Ketika utusan dari Thaif akan menghadap Rasullullah SAW untuk menyatakan keislaman, ia berfikir untuk lari ke Syiria, Yaman atau tempat lainnya. Namun, rasa takutnya tak kunjung hilang. Saat itulah salah satu temannya memberi nasihat. “Kemana engkau akan pergi, wahai Wahsyi? Pasukan Muslim tak terhentikan. Datanglah kepada Rasulullah agar kau diampuni.”
Wahsyi datang ke Madinah. Saat terlihat oleh Rasulullah SAW, Wahsyi segera berdiri di depan Beliau dan mengucap syahadat. Nabi Saw mengenali Wahsyi dan memintanya untuk menceritakan proses ia membunuh Hamzah. Usai ia bercerita, Nabi SAW tampak sangat bersedih mengingat apa yang terjadi pada pamannya di Perang Uhud tersebut. Kemudian beliau bersabda, “Pergilah Wahsyi. Jangan menampakkan wajahmu di depanku lagi mulai hari ini”.

Sungguh sangat dimaklumi sikap Nabi SAW ini. Walau sebagai paman, Hamzah sebaya dengan Nabi SAW, bermain dan tumbuh dewasa bersama sebagai sahabat. Ketika kemudian Hamzah masuk Islam, tak lama disusul oleh Umar bin Khathab, mereka berdua menjadi pilar yang kokoh dalam meredam perlakuan kejam orang-orang kafir Quraisy, bahkan mereka melakukan perlawanan yang tidak mungkin dilakukan sebelumnya, termasuk beribadah dengan terang-terangan di dekat Ka’bah.
Terbunuhnya Hamzah di Perang Uhud, apalagi jasadnya dirusak Hindun untuk mengambil hatinya, adalah kehilangan besar bagi diri pribadi Rasullullah SAW ataupun bagi Islam. Saat melihat jasad paman dan sahabat yang dicintainya tersebut, Rasullullah SAW sempat memberikan ancaman atas kebiadaban orang-orang kafir Quraisy dan melakukan pembalasan terhadap 30 orang dengan cara yang sama. Tetapi kemudian Allah menegaskan bahwa Rasullullah SAW adalah rahmatan lil ‘alamin, sehingga beliau tidak pernah melaksanakan ancamannya tersebut.
Sejak saat itu Wahsyi berusaha untuk tidak bertemu dengan Rasullullah SAW sampai beliau wafat. Mungkin tidak mengenakkan bagi Wahsyi untuk tidak bisa bergaul rapat dengan sosok mulia seperti Rasullullah SAW, tetapi atas apa yang dilakukannya di masa lalu, ia bisa memahaminya. Cukup bisa melihat Nabi SAW dari kejauhan dan menjadi umatnya adalah suatu karunia besar.
Saat Khalifah Abu Bakar mengirim pasukan ke Yamamah untuk menumpas nabi palsu Musailamah Al Kazzab, Wahsyi ikut serta dalam pasukan ini dengan membawa tombak yang dahulu ia pergunakan membunuh Hamzah. Tekadnya bulat untuk menebus kesalahannya di masa lalu dalam peperangan ini. Sambil bertempur ia terus bergerak mendekati posisi nabi palsu itu. Pada saat yang tepat, ia melihat Musailamah berdiri dengan pedang terhunus, dilemparkan tombaknya dengan teknik Habsyi yang dikuasainya, tepat mengenai nabi palsu itu hingga tewas. Wahsyi berkata, “Sungguh dengan tombak ini saya telah membunuh sebaik-baiknya manusia, yaitu Hamzah, saya berharap semoga Allah mengampuniku, karena dengan tombak ini pula saya telah membunuh sejahat-jahatnya manusia, yaitu Musailamah!”.
Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللّٰهِ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السُّوْٓءَ بِجَهَا لَةٍ ثُمَّ يَتُوْبُوْنَ مِنْ قَرِيْبٍ فَاُولٰٓئِكَ يَتُوْبُ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا
“Sesungguhnya bertobat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertobat. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 17)

Rasulullah shallallahualaihiwasallam bersabda,

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

“Bertakwalah kepada Allah di manapun anda berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih).

Hikmah yang dapat kita ambil:
Manusia pasti melakukan kesalahan. Sejahat apapun manusia, seburuk apapun dan sekeji apapun perbuatannya, jika manusia itu sendiri bertobat maka Allah pasti akan mengampuninya..
Kuat itu bukan orang yang dapat mengangkat beban berat, namun orang kuat adalah orang yang bersabar dan dapat menahan amarahnya..

Author Description

admin