Jika Tidak Malu, Lakukan Saja Sesukamu

http://www.fsialbiruni.org/wp-content/uploads/2019/03/IMG-20190331-WA0006.jpgJika Tidak Malu, Lakukan Saja Sesukamu

Dewasa ini, banyak sekali kasus amoral yang terjadi khususnya di negeri ini. Satu persatu bermunculan seolah-olah bukan lagi menjadi perkara yang tabu. Kasus korupsi, praktik KKN, suap-menyuap, dan berbagai kasus amoral lainnya sudah tidak asing lagi terdengar. Semua bermula dari budaya malu yang kian menghilang.

Malu (al-hayaa’) adalah perasaan bersalah, gelisah, dan takut ketika melakukan atau mengatakan sesuatu karena adanya aib atau kekurangan tertentu pada diri seseorang. Sementara orang yang suka berbuat semaunya ialah orang yang sudah kehilangan kendali diri karena hawa nafsu lah yang telah menguasai dirinya. Ditambah lagi, jika rasa malu mulai terlepas dari dirinya, maka yang ada ia tidak lagi mengenal halal dan haram, tidak mempedulikan baik dan buruk, dan pola pikirnya jangka pendek dan bersifat duniawi. Orang yang sudah ‘putus urat malunya’, biasanya sudah tidak mempedulikan syariat dan lebih mengedepankan nafsu syahwat.
Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya di antara yang didapatkan dari sabda kenabian yang pertama adalah bahwa jika engkau tidak merasa malu maka berbuatlah sekehendakmu.” (HR. Al-Bukhari)

Jika rasa malu sudah tercabut dari hati seseorang maka berbagai macam bentuk kejahatan akan sangat mudah dilakukan olehnya, karena hati nuraninya sudah tidak berfungsi lagi. Bahkan, Nabi saw pernah bersabda bahwa seorang hamba yang akan binasa bermula dari hilangnya rasa malu.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT apabila hendak menghancurkan seorang hamba menarik darinya rasa malu, apabila rasa malu telah dicabut maka tidaklah kau jumpai dia kecuali dalam keadaan tercela dan dibenci. Bila sudah tercela dan dibenci maka akan dicopot darinya sifat amanah. Apabila sifat amanah telah dicopot maka tidak kau jumpai dirinya kecuali seorang pengkhianat, bila sudah menjadi pengkhianat maka dicopot darinya sifat kasih sayang. Bila sifat kasih sayang telah dicopot darinya maka tidak kau jumpai dia kecuali dalam keadaan terlaknat. Dan, apabila dalam keadaan terlaknat maka akan dicopotlah ikatan Islam darinya.” (HR. Ibnu Majah)

Malu merupakan sebagian cabang iman yang sangat penting dimiliki oleh setiap mukmin.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,”Iman terdiri dari enam puluh cabang lebih, dan rasa malu adalah sebagian cabang dari iman.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Malu adalah kunci keutamaan, sebab dengan adanya rasa malu maka seorang Muslim akan lebih berhati-hati dalam segala bentuk tindak-tanduknya agar tidak menyimpang dari syariat. Rasa malu juga mengantarkan kita pada sikap ‘iffah (memelihara diri dari sifat tidak terpuji) dan menjaga martabat seorang Muslim. Selain itu, malu juga termasuk esensi akhlak Islam.
Allah menyukai rasa malu yang dimiliki hamba-Nya, karena malu dapat melahirkan sikap istiqamah (konsisten) dalam beribadah kepada-Nya. Alangkah malunya jika adik-adik kita yang sudah rajin shalat berjamaah, sementara kita belum. Alangkah malunya jika banyak sekali teman-teman kita diluar sana berlomba-lomba untuk menghafalkan Al-Qur’an, sementara kita tidak. Alangkah malunya jika masih banyak sekali anak di negeri ini yang ingin bersekolah setinggi mungkin terpaksa berhenti karena terkendala dalam keuangannya, sementara kita masih saja menghambur-hamburkan harta yang notabene hanya sebagai ‘titipan’ semata.

Akhir kata, kendali moral dan hawa nafsu kita terletak pada rasa malu. Begitupun harkat dan martabat diri hamba sangat bergantung pada rasa malu yang dimilikinya. Semakin tinggi rasa malunya, semakin tinggi pula harga diri dan martabatnya. Sebaliknya, semakin rendah rasa malunya, semakin rendah pula harga diri dan martabatnya.

By : Ninda Ayu Narassati (Staff Sarana dan Prasarana FSI Al Biruni)

Author Description

admin