Imam An-Nawawi, Cinta Ilmu, Cinta Al-Qur’an dan Zuhudnya pada Dunia

http://www.fsialbiruni.org/wp-content/uploads/2020/04/IMG-20200420-WA0018.jpgImam An-Nawawi, Cinta Ilmu, Cinta Al-Qur’an dan Zuhudnya pada Dunia

Bismillah
Temen temen sekalian yang di rahmati Allah Subhanahu Wata’ala, hari ini penulis mencoba akan sharing sedikit tentang kisahnya Imam An-Nawawi, seorang ulama islam yang sangat terkenal akan karya karyanya, seorang hafidz quran di usia yang terhitung belia, dan banyak lagi inspirasi inspirasi beliau yang dapat kita contoh sebagai sesama umat muslim.
Malam sudah larut. Banyak orang-orang yang telah terlelap merangkai mimpi. Namun, ada seorang pemuda yang masih terlihat menikmati bacaannya. Ketika rasa kantuk menyerang, ia sandarkan tubuh dan kepalanya pada buku sebentar, lalu terbangun kembali. Tanpa merebahkan punggungnya di tempat tidur, ia lalu meneruskan aktifitas yang menjadi hobinya, yaitu membaca. Begitu seterusnya, hingga ia menunaikan sholat tahajjud.
Menjelang sholat subuh, ia meraih roti yang ia simpan dan memakannya sebagai sahur yang sekaligus menjadi makan malam serta makan siangnya. Ia sudah terbiasa berpuasa dan makan sekali dalam sehari semalam.
Kemudian di siang harinya ia sangat rajin dalam belajar dan menuntut ilmu yang sehingga nanti ketika beliau dewasa banyak karya karya nya yang sangat terkenal dan digunakan sebagai rujukan sehingga karyanya sampai di tangan kita.
Kelahiran dan Masa Kecil
Imam An-nawawi lahir pada tahun 631H di kota Nawa di sebuah daerah Hauran sekitar 85 km dari kota Damaskus di Suriah.
Pada waktu kecil ia sudah memiliki kepribadian yang berbeda dengan teman seusianya, dimana pada saat itu temen temen nya suka bermain di tanah lapang, Namun Imam An-Nawawi berkebalikan nya, dia tidak suka bermain karena pada saat itu ia sedang sangat senang senang nya dalam membaca Al-Qur’an, sempat di ajak paksa oleh temen temen nya ituk ikut bermain, namun ia menolak hingga menangis.
Masya Allah banget yaa, bayangkan saat yang lain bermain ia malah asyik dengan bacaan Al-Qur’an nya,
Lanjutt…
Kemudian dengan hobinya tersebut yang suka membaca Al-Qur’an akhirnya ngga sengaja pada saat itu ada seorang syeikh yang bernama Yasin bin Yusuf Al-Marakisyi, kemudian syeikh tersebut begitu kagum dengan anak itu, kemudian Syaikh tersebut langsung mendatangi ayah An-Nawawi dan menasehatinya Supaya tidak sibuk dengan dagangan nya dan meminta agar anaknya lebih di fokuskan untuk belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu islam.
Syaikh itu mendatangi guru ngaji An-Nawawi mengatakan bahwa anak ini insya allah kelak akan menjadi ulama rabbani dan banyak memberikan manfaat yang besar kepada umat islam. Perhatian ayah dan guru ngaji beliau pun menjadi besar sehingga beliau berhasil menghafal Al-Qur’an 30 juz sebelum usia baligh, yaitu tepatnya ketika beliau menginjak usia 10 tahun.

Masya Allah keren yaa beliau sudah hafal 30 juz sebelum menginjak usia baligh, bayangkan coba kita saat ini, juz 30 saja mungkin belum semua pemuda hafal, termasuk penulis yang fakir ilmu ini.

Kemudian pada saat usianya menginjak antara 18 atau 19 tahun, Imam Nawawi diajak pindah oleh Ayahnya ke Damaskus, disebabkan kota Nawa tidak kondusif lagi untuk memperdalam ilmu. Damaskus pada masa itu dipenuhi para ulama dan menjadi tujuan para penuntut ilmu yang datang dari berbagai penjuru Negara-negara Islam, disana ia mondok di lembaga pendidikan al-Ruwahiyyah atas beasiswa dari lembaga tersebut, Di sana ia memulai perjalanannya menuntut ilmu. Ia menghabiskan seluruh waktunya untuk menuntut ilmu sehingga ilmu pun memberikan kepadanya sebagian darinya.

Dikisahkan, pada saat di madrasah Rawahiyah Damaskus, Imam Nawawi selama dua tahun tidak bisa tidur normal, bahkan dikisahkan tidurnya di atas kursi nya yang digunakan untuk menuntut ilmu. Imam al-Dzahabi menceritakan ketekunan Imam Nawawi dalam belajar, bahwa siang dan malam dihabiskan untuk belajar. Tidak tidur kecuali memang mengantuk berat. Waktunya difokuskan untuk membaca, menulis kitab, muta’lah dan mengunjungi para Syaikh.
Pada masa awal belajar itu, Imam Nawawi sangat ketat mengatur jadwal mempelajari pelajaran di madrasah. Setiap harinya ia membaca dua belas pelajaran dihadapan para masyayikh Damaskus. Pelajaran yang ia baca misalnya, kitab al-Wasith, al-Muhadzdzab, al-Jami’ baina al-Shahihain, Shahih Muslim, al-Luma’, Ishlahu al-Mantiq, al-Muntakhob, kitab tashrif, kitab Asma’ Rijal, dan kitab Tauhid.
Kemudian diantara Karya Karya Besar nya adalah
• Al-Arba’in An-Nawawiyah (buku ini mungkin sering banget kita jumpai ketika kita membaca hadist)
• Kitab Riyadhus Shalihin (ini juga salah satu buku hadist yang sering kita pelajari)
• Syarah Shahih Muslim
Imam An-Nawawi adalah seorang yang zuhhud, wara’ dan bertakwa. Beliau sederhana qana’ah dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktunya dalam ketaatan, beliau sedikit tidur dan malamnya banyak di gunakan untuk ibadah dan menulis. Beliau juga menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar termasuk kepada para penguasa dengan cara yang bijaksana.
Temen yang di rahmati Allah SWT, banyak hal yang bisa kita teladani dari beliau diantaranya adalah
• Sangat Cinta Terhadap Ilmu, hampir seluruh waktunya digunakan untuk menuntut ilmu
• Lebih senang membaca, menghafal dan mentadabburi Al-Qur’an
• Zuhud terhadap dunia, (tidak cinta dengan dunia)
• Sikap pantang menyerahnya dalam menuntut ilmu ketika masih muda
Mungkin itu saja yang dapat penulis sampaikan, penulis sadar bahwa masih banyak kekurangan di tulisan saya ini, semoga Allah SWT mengampunkan dosa dosa saya, dan semoga saya dan pembaca dapat mengambil ibrah dari kisah tersebut, dan bisa menerapkan dalam kehidupan sehari hari

Author Description

admin