Hijrah to The MAX!

http://www.fsialbiruni.org/wp-content/uploads/2019/06/IMG-20190623-WA0022.jpgHijrah to The MAX!

Hijrah menjadi fenomena booming di Indonesia. Hijrah pertama kali dikenalkan pada saat Imigrasi Nabi Muhammad SAW. dari Makkah ke Madinah disebut dengan “hijrah” karena Nabi Saw meninggalkan Makkah, dalam arti keluar darinya, berpindah menuju Madinah, yakni keluar dari satu wilayah untuk bertempat di wilayah lain.
Kata “Hijrah” dapat diartikan dengan “keluar dari satu tempat ke tempat lain” (al-khuruj min ardl ila ardl), dalam Kamus bahasa Arab Lisanu al-‘Arab karya Ibnu Mandhur (w. 711 H). Al-Qur’an menyebut kata “Hijrah” sebanyak 31 kali, yang semuanya mengandung arti meninggalkan keburukan.
Dengan demikian, Hijrah berarti berpindah dari perbuatan buruk dan segala apa yang Allah larang, untuk menuju ketaatan.
Fenomena Hijrah di Indonesia bukan hanya terjadi pada artis Ibukota, tetapi hidayah itu juga datang pada atlet peraih medali emas di cabang wushu pada Asian Games XVIII lalu. Lindswell Kwok, 27 Tahun.
Lama tak muncul ke publik sejak menyatakan pensiun usai Asian Games XVIII Jakarta-Palembang 2018. Tiba-tiba Lindswell memutuskan untuk pindah agama dan memantapkan keyakinannya pada Islam.
Atlet yang kerap disebut Ratu Wushu Indonesia itu memutuskan untuk mencari tahu Islam pada tahun 2015.
“Aku mulai cari tahu itu di 2015. Itu dari teman-teman. Itu pertama, karena bagaimana pun kita nggak akan mengenal kalau nggak ada perkenalan dari orang. Terus, dari sana saya cari tahun sendiri,” Ungkap Lindswell di Kediamannya.
Ia mengaku awalnya ia bukan seseorang yang pro terhadap Islam. Menurutnya, ada beberapa oknum yang membuatnya salah paham terhadap Islam. Hal ini yang membuat Lindswell sempat salah paham terhadap Islam.
“Awalnya juga aku, Islam itu apa sih? Aku dulu nggak 100% pro, kan ada orang yang ‘oh semua agama itu sama’. Kalau aku mempertanyakan. Di Indonesia juga banyak oknum-oknum yang membuat Islam ini terlihat berbeda. Dulu aku mempertanyakan, kok gini sih Islam?”. Kenang Linsdwell.
Alhamdulillah, setelah mempelajari Islam lebih banyak dan lebih dalam, Lindswell sadar bahwa Islam sangatlah indah. Islam merupakan agama yang memiliki pedoman hidup lengkap, yakni Al-Quran.
Lindswell juga terketuk hatinya saat melihat sahabat atletnya beribadah shalat. Ia melihat, bagaimana shalat bisa menjadi tempat mengadu bagi kaum mulim.
Ketika sahabatnya selesai menunaikan shalat, Lindswell berkata, “Enak yah shalat kayak ada tempat mengadu, habis shalat tenang lagi, bebannya berkurang.”
Melalui pemikiran dan pertimbangan yang mendalam, Lindswell akhirnya memutuskan untuk memeluk dan mencintai Islam. Namun, ia dihadapkan dengan tantangan yang sangat besar, hingga akhirnya memutuskan untuk menyembunyikan identitas agamanya. Tak hanya kepada keluarganya, tapi juga kepada pelatihnya. Ia harus sembunyi-sembunyi ketika melakukan shalat. Begitupun ketika melakukan puasa Ramadhan. Saat latihan tidak ada yang tahu dirinya sedang berpuasa. Lindswell pun harus berlatih layaknya atlet lain yang tidak berpuasa.
Kendala paling besar adalah menghadapi keluarga. Ia sangat takut membuat ibunya sedih. Apalagi sebagai anak terakhir, ia sangat dekat dengan ibu dan ayahnya. Proses tersebut dipersulit dengan komentar negative dari netizen yang mengabarkan sepotong cerita saja, tapi sudah menghakimi keadaanya. Hal itu tak hanya membuat dirinya sempat terpuruk, tapi juga membuat sang ibu sedih.
Sempat dimusuhi oleh keluarga, kini Lindswell sudah berkomunikasi baik dengan ibunya dan menjaga hubungan baik dengan keluarganya.
Hijrah itu tidak mudah. Jalannya pun tak indah. Kadang bisa membuat iman goyah. Tapi yakinlah Allah akan menolong bagi siapa saja yang memegang tali agama Allah dengan sungguh-sungguh.
Ingat ketika seorang sahabat berkata, “Aku tidak ingin kalau ada satu dari anggota badanku yang diambil sedangkan aku tidak merasakan sakitnya. Aku hanya berharap pahala di sisi Allah atas hal ini.”
Ketika kakinya harus diamputasi, beliau hanya meminta satu permintaan saja, yaitu amputasi kakinya ketika beliau sedang shalat. Begitu Khusyu’ shalatnya, hingga ia tidak merasakan apa pun saat kakinya diamputasi.
Subhanallaah.. adalah seorang Urwah bin Zubair, tabi’in yang diberi ujian bertumpuk-tumpuk, namun dengan tegar dan yakin menghadapinya.
Iman kita memang tidak sekokoh sahabat Urwah bin Zubair, barunya kita mengenal Islam juga tidak sebaru Ratu Wushu Indonesia, Lindswell. Tapi sudahkah Islam melekat pada sanubari hingga Islam menjadi hidup dan mati kita?
Ghirah kita baru terbakar ketika Islam diinjak, dihina, dicaci. Tapi sudahkah Ghirah kita terbakar ketika dalam keadaan ni’mat?
Ingatlah Allah berfirman,
يوَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai–berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian, karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian memperoleh petunjuk.” (Ali ‘Imraan [3]: 103)
Marilah kawan, Islam yang sudah kita genggam, jangan sampai genggaman itu melemah apalagi sampai terlepas. Siapkan genggaman kuat-kuat hingga sampai tangan ini sangat sulit untuk menggenggam dan terlemas terbujur kaku.
يَأْتِي عَلى النَّاسِ زَمَانٌ اَلصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Akan datang pada manusia suatu zaman, saat orang yang bersabar di antara mereka di atas agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)

Author Description

admin