Hagia Sophia/Aya Sofya, Saksi Saksi Tingginya Akhlak Sultan Muhammad Al Fatih

http://www.fsialbiruni.org/wp-content/uploads/2020/07/IMG_20200726_204831.jpghttp://www.fsialbiruni.org/wp-content/uploads/2020/07/IMG_20200726_204831.jpgHagia Sophia/Aya Sofya, Saksi Saksi Tingginya Akhlak Sultan Muhammad Al Fatih

Apa yang terlintas dibenak ikhwah fillah bila mendengar kata Hagia Sophia? Beritanya beberapa hari lalu mengenai perubahannya kembali menjadi masjid kembali setelah sebelumnya meseum, kira-kira hal apakah yang melatar belakangi Mr. Erdogan untuk mengambil langkah tersebut ?
Mari kita mulai sejarah Hagia Sophia….
Pertama kali dibangun sebagai gereja Ortodoks di Istanbul Turki, pembangunannya dimulai sejak 537 M hingga 1453 M. selanjutnya pada tahun 1204 – 1261 aya sofya diubah oleh pasukan salib ke 4 menjadi Katedral Katolik Roma dibawah kekuasaan Kekaisaraan Latin Konstantinopel, dan diubah menjadi masjid pada tahun 29 Mei 1453 sampai 1931 pada masa kekuasaan Kesultanan Utsmani, dan kembali disekulerkan pada tanggal 1 Februari 1935 oleh Republik Turki dan dijadikan Museum dan hingga terlahir kabar yang begitu menyejukkan hati tepatnya 10 Juli 2020 Aya Sofya atau Hagia Sophia kembali diubah menjadi masjid oleh presiden Turki, R.T Erdogan setelah pengadilan Turki memutuskan bahwa konversi Hagia Sophia menjadi museum pada tahun 1934 adalah ilegal. Putusan pengadilan tersebut membatalkan keputusan kabinet Turki tahun 1934, yang dipimpin oleh tokoh mderinisasi sekuler Mustafa Kemal Ataturk.
Hagia Sophia dirancang oleh Isidore dari Miletus dan Anthemius dari Thalles, dengan panjang 82 m dan lebar 72m, dan tinggi 55m. Hagia Sophia terkenal akan kubahnya yang besar disebut sebagai lambang arsitektur Bizantium. Bagunan yang saat ini berdiri mulanya adalah sebuah Gereja antara tahun 532-537 atas perintah Kaisar Romawi Timur Yustinianus I, gereja ini dipersembakan kepada Kebijaksanaan Tuhan, Sang Logos sebagai pribadi ke 2 dari Trinitas Suci.
Hingga pada tahun 1453, ketika Sultan Fatih berhasil menyebarkan Islam dan menaklukan Konstantinopel oleh pasukan Utsmani kemudian memerintahkan untuk merubah gereja utama Kristen Ortodoks menjadi masjid yang kemudian dalam ejaan Turki lebih dikenal dengan Aya Sofya dan merupakan masjid utama di Istanbul.
Nah tentunya sesuatu tempat yang bersejarah dan memiliki pengaruh yang besar memiliki fakta-fakta menarik, apasaja fakta yang dimiliki oleh Aya Sofya ?
Pertama kali sebagai tempat ibadah umat kristen Ortodoks Yunani, karena cikal bakal pembuatan Hagia Sophia awalnya didirikan oleh kaisar Bizantium, Constantius pada 360 M
Pernah beberapa kali terbakar karena konflik, ketika tahun 404 M terjadi perseteruan di internal keluarga kaisar Arkadois yang menyebabkan kerusuhan masal di Konstantinopel, akibat kerusuhan tersebut menyebakan terbakarnya Hagia Sophia hingga tak ada yang tersisa dari bangunan tersebut. kaisar Theodosis II kembali membangun gereja tersebut pada tahun 415, yang dibangun oleh arsitek Rufinus dan dikenal dengan “Magna Ecclesia” atau gereja besar. Hingga ketika revolusi Nika melawan Kaisar Justinian I pada 532 Hagia Sophia kembali dihancurkan. Dan kembali dibangun oleh Justian I dengan menunjuk arsitek Isidors dan Thalles, dibangun selama 5 tahun dan untuk pertama kali digunakan sebagai tempat ibadaha pada 7 Desember 537.
Berstatus menjadi Masjid pada masa Ottoman, pada masa penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Fatih, saat memasuki Hagia Sophia, ia mecegah pasukan untuk melakukan pengerusakan dan salah satu ulama yang bersamanya naik ketas mimbar lalu meneriakan dua kalimat syahadat, dan untuk pertama kalinya Sultan Fatih mendirikan sholat setelah sejumlah ornamen khas Ortodoks Yunani ditutup dengan kaligrafi yang didesain oleh Kazasker Mustafa Izzet.
Dan selanjutnyaa kita akan beralih ke masa dimana Sultan Muhammad Fatih Menaklukan Konstantinopel, dan Hagia Sophia adalah saksi tingginya akhlak Sultan Muhammad Fatih.
Kala itu, Selasa Jummadil Ula 857 Hijriyah atau bertepatan dengan 1453M pasukan Muhammad Fatih berhasil menaklukan konstantinopel yang saat ini bernama Istanbul. Ketika telah berhasil menaklukan kota tersebut, masih terdapat kantong-kantong wilayah yang tetap melakukan perlawanan, dan sebagian pasukan muslimin syahid terbunuh. Hingga sebagian penduduk berlindung ke dalam gereja Di hari kemenangan itu, tak ada yang dilakukan oleh Sultan Al-Fatih kecuali berkeliling menemui pasukan dan panglima-panglima perang yang selalu mengucapkan, “Masyaallah.” Maka dia pun menoleh pada mereka dan berkata, “Kalian telah menjadi orang’ orang yang mampu menaklukkan kota Konstantinopel yang telah Rasulullah kabarkan.”
Sultan mengucapkan kata selamat atas kemenangan yang telah mereka capai dan melarang mereka melakukan pembunuhan. Sebaliknya, Sultan memerintahkan untuk berlaku lembut kepada semua manusia dan berbuat baik pada mereka. Kemudian dia turun dari kudanya dan bersujud. Sultan Muhammad Fatih segera menuju ke gereja Hagia Sophia atau Aya Shopia. Di sana telah berkumpul banyak orang dari kalangan rahib, pendeta, dan masyarakat. Tatkala Sultan mendekati pintu gereja, orang-orang Nasrani merasa sangat ketakutan. Salah seorang pendeta segera membukakan pintu untuk Sultan. Sultan meminta pendeta menenangkan orang-orang yang di dalam gereja, dan memerintahkan mereka pulang ke rumah masing-masing dengan tenang dan aman.
Mendengar serta menyaksikan sikap yang demikian, warga yang semula bersembunyi di gereja mulai tenang. Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Ustmaniyah, menyebutkan pada saat itu ada beberapa pendeta yang sembunyi di lorong-lorong bawah tanah. Maka tatkala mereka menyaksikan sikap toleran Sultan Al-Fatih mereka pun menyatakan diri masuk Islam.
Setelah itu, Sultan memerintahkan untuk segera mengubah gereja tersebut menjadi masjid, tujuannya agar nanti pada hari Jumat sudah bisa dipergunakan untuk Salat Jumat. Para pekerja pun segera bekerja keras melakukan renovasi. Mereka menurunkan salib-salib, berhala-berhala, dan menghapus semua gambar yang ada di dalam gereja. Kemudian membuat sebuah mimbar untuk khatib.
Ash-Shalabi mengatakan perubahan gereja menjadi masjid dibolehkan, sebab penaklukkan negeri itu melalui peperangan. Sedangkan peperangan memiliki hukum sesuai dengan Syariat Islam. Sultan telah memberikan kebebasan kepada kalangan Nasrani untuk melakukan acara ibadah memberikan kebebasan bagi mereka memilih pemimpin agama yang memiliki otoritas untuk melaksanakan pengadilan dalam masalah-masalah sipil di kalangan mereka. Kebebasan ini juga diberikan pada ke para pemimpin gereja di wilayah-wilayah lain. Namun pada saat yang sama, Sultan mewajibkan mereka membayar jizyah.
Sultan Muhammad Al-Fatih memperlakukan penduduk Konstantinopel dengan cara yang penuh rahmat. Sultan memerintahkan tentaranya untuk berlaku baik dan toleran kepada para tawanan perang. Bahkan dia telah menebus sejumlah tawanan dengan hartanya sendiri. Khususnya ke para pangeran dari Yunani dan pemuka agama Nasrani. Sultan kerap bertemu mereka untuk menenangkan diri mereka. Sultan memberi jaminan, agar mereka tidak takut berada di atas akidah lama, melakukan syariat agama mereka, serta tetap beribadah di rumah-rumah ibadah.
Dia memerintahkan untuk melakukan pemilihan ketua uskup baru. Akhirnya mereka memilih Agnadius sebagai ketua uskup baru. Setelah terpilih, Agnadius berangkat menuju kediaman Sultan yang diiringi sejumlah Uskup. Sultan Muhammad Al-Fatih menyambutnya dengan sambutan yang demikian ramah dan menghormatinya dengan penuh penghormatan. Sultan makan bersama mereka dan berdialog dengannya dalam berbagai masalah, baik masalah keagamaan, politik, dan sosial.
Setelah pertemuan dengan Sultan, persepsi Agnadius dan para uskup tentang SultanSultan Turki Utsmani sekerika berubah 1800 . bahkan berubah pandangan tentang kaum muslimin secara umum. Dia merasa berhadapan dengan seorang Sultan yang demikian terdidik dan berakhlak. Pembawa misi dan akidah relijius yang kokoh, serta seorang pemimpin yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan, plus seorang kesatria sejati.
Kekaguman ini dirasakan juga oleh seluruh warga Romawi dari lubuk hati mereka yang paling dalam. Sebab, mereka sebelumnya membayangkan akan ada pembunuhan massal terhadap rakyat Konstantinopel. Namun yang terjadi malah sebaliknya, hanya dalam hitungan hari, penduduk Konstantinopel telah melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa. Mereka merasa tenang dan damai. Sesungguhnya agama Nasrani yang berada dibawah pemerintahan Islam memperoleh semua hak-hak mereka. Dan setiap agama memiliki pemimpin sendiri yang langsung berurusan dengan Sultan. Selain itu, setiap agama boleh memiliki sekolah-sekolah dan tempat-tempat ibadah khusus. Sebaliknya, tidak seorang pun diperbolehkan melakukan intervensi dalam masalah keuangan internal mereka. Mereka diberi kebebasan berbicara dengan bahasa apa saja yang dikehendaki.
Sultan Muhammad Al-Fatih memiliki sikap toleransi yang begitu tinggi terhadap orang-orang Nasrani, didasarkan adanya dorongan untuk komitmen terhadap Syariat Islam yang memang memberi toleransi kepada kaum Yahudi dan Nashrani, selagi mereka mau membayar jizyad.

Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Hagia_Sophia
https://kalam.sindonews.com/read/103864/70/hagia-sophia-saksi-tingginya-akhlak-sultan-muhammad-al-fatih-1594948044

Author Description

admin