Astronom Dari Negeri 1001 Malam

http://www.fsialbiruni.org/wp-content/uploads/2019/03/2.jpgAstronom Dari Negeri 1001 Malam

Bicara tentang sejarah peradaban Islam, sulit rasanya tidak takjub dan kagum pada prestasi ilmuan dan intelektual muslim di masa lalu. Dari ilmu kedokteran, matematika, filsafat, seni, fisika hingga astronomi. Di masa keemasannya, umat Islam berada di garis terdepan hampir dalam semua cabang keilmuan. Muslim mempelopori penemuan-penemuan baru dan membangun bangunan keilmuan yang belum pernah dibangun sebelumnya. Mulai dari Al-Khawarizmi di bidang matematika, Ibnu Sina di bidang kedokteran, Ibnu Haitham di bidang optik sampai bapak astronom Muslim yaitu Al Biruni.

Terlahir dengan nama asli Abu Rayhan Muhammad Ibnu Al Biruni lahir pada 4 September 973 M di Kath (Kiva), sebuah kota di sekitar wilayah aliran sungai Oxus, Khwarizm (Uzbekistan). Dahulu daerah ini merupakan salah satu pusat kekuasaan Kerajaan Persia (Iran). Sama seperti anak-anak lain di masanya, ia dididik di usia muda. Belajar bahasa Arab dan bahasa Persia, ilmu-ilmu Islam yang mendasar, dan ilmu pengetahuan alam. Mulanya ia meminati kajian matematika dan astronomi, ia mempelajari ke dua ilmu ini dari Abu Nashr Mansur. Di kemudian hari, ia menjadi seorang spesialis dalam dua bidang ilmu ini.

Al-Biruni merupakan pakar astrologi yang hidup pada era tiga kerajaan besar di Persia.Pada mulanya, dia menjadi ahli astronomi di Dinasti Khawarizmi. Saat itu, usianya masih 20 tahun tapi kecerdasannya sudah tampak dengan sejumlah karyanya di bidang sains. Bahkan, dia juga kerap bertukar pikiran dengan Ibnu Sina dalam bidang matematika, filsafat, dan astronomi. Karena keunggulannya itu, sehingga dia diperintah untuk tinggal di istana Khawarizmi.

Setelah dinasti khawarizmi ditaklukan oleh Emir Makmun Ibnu Muhammad, Al Biruni mengungsi dan hidup di Grudan. Di sana ia menyelesaikan salah satu karyanya yang berjudul The Cronology of Ancient Nations. Buku ini termasuk membahas tentang geografi manusia dan kelayakhunian planet Bumi. Setelah 11 tahun menetap di Gurdan ia kembali ke Khawarizmi. Setelah dinasti Khawarizmi di invasi oleh Sultan Mahmud, Al Biruni banyak melakukan perjalanan dan memperluas basis dakwahnya sampai ke timur India. Sebagai seorang ilmuwan muslim, segala sesuatu yang dipelajarinya selalu dikaitkan dengan Al-Qur’an. Ia melandaskan semua kegiatannya kepada Islam serta meletakkan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk menyingkap rahasia alam. Semua hasil karyanya bermuara kepada Allah SWT.

Karyanya di bidang astronomi yang paling fenomenal adalah Masudic Canon (al-Qanun al-Mas’udi/ 1031). Kecerdasan al-Biruni mulai diperhitungkan para ilmuwan sekitar ketika masih berusia 17 tahun. Pada usia itu, dia telah mampu meneliti garis lintang bagi kota kelahirannya Kath dengan menggunakan altitude maksima matahari. Kemudian, saat berusia 22 tahun, dia menulis beberapa hasil kerja ringkas, termasuk kajian proyeksi peta Kartografi, metodologi untuk membuat proyeksi belahan bumi pada bidang datar. Ia juga menulis buku Astrologi, sebuah buku yang membahas sistem desimal. Lalu, 4 buku tentang bintang-bintang dan 2 buku sejarah. Selain itu, dia juga membuat penelitian radius luas Bumi yang mencapai 6.339,6 kilometer (hasil ini diulang di Barat pada abad ke-16).
Meski keilmuannya yang paling menonjol adalah ilmu astronomi, namun dia juga cerdas dan menguasai beberapa disiplin ilmu yang lain, di antaranya obat-obatan, kedokteran, kimia, fisika, geodesi, dan matematika. Al-Biruni juga mampu berbahasa Arab, Turki, Persia, Sansekerta, Yahudi dan Suriah. Allah telah memberikan sebuah hidup yang sangat berarti bagi Al-Biruni. Ia adalah orang yang benar-benar menggunakan akal dan pikirannya yang di anugrahkan Allah, untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Nya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring. Dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka.” (Ali Imran: 190-191).

Author Description

admin