Pandangan ISLAM Terhadap Perbuatan Pelecehan Seksual

Pandangan ISLAM Terhadap Perbuatan Pelecehan Seksual

Pada saat ini di Indonesia sedang maraknya perbuatan pelecehan seksual, pelaku mulai dari anak-anak sampai umur dewasa, bahkan yang lebih mengejutkannya lagi ada korban yang merupakan bayi baru berumur 9 bulan. Tak ayal dari pelecehan seksual ini ada yang berlanjut pemerkosaan sampai pembunuhan dengan cara yang sadis, hingga memakan korban. Innalillhai… lalu bagaimana Islam memandang ini???

Jelas dalam Islam perbuatan pelecehan seksual ini sangat tidak terpuji. Islam adalah agama yang sangat fitrah, universal dan yang paling kafah sepanjang zaman. Agama yang mampu menjawab tantangan zaman, dan mengatasi setiap permasalahan hidup dan kehidupan manusia.

Universal dari Islam sudah mencakup keseluruhan aspek kehidupan manusia dari yang paling besar dan paling kecil. Salah satunya adalah menyangkut dengan etika, moral, dan akhlak serta interaksi atau pergaulan antar manusia, sehingga permasalahan-permasalahan yang sering timbul dari pergaulan sosial masyarakat seperti pelecehan seksual ini dapat dihindari dalam Islam.

Dalam Islam, pelecehan seksual ini dipandang perbuatan tercela karena Islam telah mengajarkan kepada setiap umatnya untuk saling menghormati kepada siapun tanpa melihat posisi, jabatan, umur, bahkan jenis kelamin dari seseorang sekalipun.

Sementara itu, Islam juga tetap mengakui bahwa manusia membutuhkan aktivitas seksual, namun ketentuan aktivitas seksual tersebut dalam Islam hanya boleh dilakukan dengan jalur yang telah ditentukan, yakni melalui jalur pernikahan yang sah, dengan mengikuti syarat dan ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah SWT. yang telah menciptakan manusia dengan disertai hawa nafsu, sebagaimana dalam surah Ali-Imran ayat 14.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang dinginkan, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, serta sawah dan ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang terbaik (surga).”

Dengan kata lain manusia tidak dapat lepas dari unsur nafsu seksual karena dengan adanya unsur tersebut manusia dapat melanjutkan dan memperbanyak keturunannya. Tetapi bukan berarti manusia boleh melakukan aktivitas tersebut sesuka hati. Bila aktivitas seksual dilakukan di luar jalur yang telah ditentukan, seperti uang telah dilakukan oleh orang-orang yang hanya menuruti hawa nafsu dan keinginan mereka, maka hubungan seksual tersebut disebut zina. Agar manusia menjauh dari perbuatan yang dapat mendekati zina maka Allah SWT. telah memberi rambu-rambu melalui firman-Nya dalam surah Al-Isra ayat 32.

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.”

Bila ayat di atas dipahami dan diaplikasikan maka dengan sendirinya perbuatan yang dapat menyebabkan perbuatan zina dapat dihindari. Adapun di antara aktivitas atau perbuatan yang dapat menyebabkan zina adalah bentuk-bentuk perbuatan seperti memandang wanita dari atas hingga bawah, lelucon seksual yang menyinggung perasaan, gambar atau foto yang pornografis dan bentuk-bentuk lainnya yang serupa.

Kembali ke pelecehan seksual tersebut, merupakan permasalahan yang timbul dalam pergaulan sosial masyarakat. Untuk itu ajaran agama Islam telah memberi aturan-aturan dalam pergaulan sosial masyarakat seperti sopan santun, etika berpakaian dan memandang seseorang dalam berinteraksi atau bergaul. Dengan demikian pelecehan seksual ini merupakan bentuk perbuatan yang dianggap sebagai perbuatan yang bermoral rendah, dengan moral merupakan tata kelakuan seorang yang berinteraksi dan bergaul, maka ukuran moral yang sangat tinggi dapat diukur dari pengakuan masyarakat bahwa suatu perbuatan tersebut tidak dianggap menyalahi aturan dan kebiasaan yang ada di dalam masyarakat, seperti apa yang patut dan apa yang tidak patut untuk dilakukan.

Dalam ajaran agama Islam, jangankan mencium atau memegang anggota badan seorang perempuan, melihat dengan menimbulkan syahwat saja tidak boleh, karena dikhawatirkan dapat menimbulkan dan mendekati zina. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya surah An-Nur ayat 30-31.

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, agar mereka mejaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau puta-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belom mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman,  agar kamu beruntung.”

Nah disini menariknya, meski banyak wanita dan kaum perempuan mendapati pelecehan seksual, namun ketika diberikan hukum Islam untuk melindungi harga diri mereka, mereka buru-buru menolak beramai-ramai dan alergi.

Para pejabat, pemangku kepentingan negara ini bahkan masih belum rela jika disebut hukum Islam. Jika pengelola Negara masih alergi terhadap Islam, maka sebaiknya para Muslimah harus mampu memiliki komitmen diri menerapkan Islam pada diri sendiri. Sehingga ada beberapa tips untuk para Muslimah.

Pertama, berbusanalah sesuai ajaran Islam. Soal busana dalam Islam bukan soal remeh apalagi sekedar selera. Berbusana adalah soal iman dan kehormatan diri. Maka Islam memberi ancaman berat kepada wanita mengaku Muslimah tapi berpakaian tidak sesuai ajaran Islam.

Oleh karena itu setiap kepala keluarga harus benar-benar bisa mengarahkan istri dan anak-anak perempuannya untuk selalu menggunakan jilbab. Seperti dalam firman-Nya Allah dalam surah Al-Ahzab ayat 59.

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ironisnya di Indonesia, kecantikan seorang wanita selalu diidentikkan dengan keindahan wajah, kulit, rambut, bahkan harus dilombakan. Sementara para orangtua tidak memiliki perhatian serius masalah aurat pada anak-anak perempuan mereka.

Kedua, selalulah ditemani muhrim ketika hendak melakukan urusan-urusan di luar rumah, terutama ketika membutuhkan waktu panjang dan perjalanan jauh. Kecuali bisa dipastikan aman, seperti ke sekolah, mengajar atau sebagainya. Namun dalam situasi seperti ini, ditemani muhrim akan jauh lebih baik dan menentramkan.

Maka dari itu, seorang Muslimah harus benar-benar memperhitungkan aktivitas yang akan dilakukannya. Apakah keluar rumahnya itu memang sangat penting atau biasa-biasa saja. Jika jelas makan waktu lama sampai harus pulang malam, maka meminta bantuan muhrim untuk menemani adalah langkah bijaksana.

Ketiga, hindari pamer wajah yang dapat mengundang fitnah, khususnya dari lawan jenis. Hari ini banyak wanita memasang foto secara tidak selektif, apalagi melewati batasan syariat sama saja membuka diri untuk direspon oleh orang lain. Bagaimana tidak, semua mata lelaki bisa melihat. Ini biasanya awal pintu masuk pelecehan seksual.

Keempat, berikan kecantikan dan dandanan seorang Muslimah hanya kepada suami semata, bukan orang lain. Apalagi kepada teman-teman di jejaring sosial. Hanya suami yang boleh melihat dan menikmati kecantikan seorang Muslimah sebagai wanita yang telah dinikahinya. Zaman sekarang yang terjadi malah terbalik. Banyak wanita berhias ketika keluar rumah, sementara di rumah biasa-biasa saja.

Kelima, hindari wangi-wangian di luar rumah, kecuali untuk suami. Islam menyuruh umatnya bersikap rapi, harum dan bersih. Karenanya, kaum Adam disunnahkan menggunakan wewangian saat ke masjid.

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda:

“Dari Abu Musa al-Asy’ari berkata: Rasulullah Saw bersabda: Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian keluar rumah dan berjalan melewati satu kaum sehingga mereka dapat mencium baunya, maka ia adalah wanita pezina.” (HR: an-Nasa’I).

Keenam, jika pun terpaksa harus keluar maka harus meminta izin keluarga, suami atau orang-orang terdekat dengan catatan handphone harus aktif selalu, sehingga kalau terjadi sesuatu di perjalanan, keluarga bisa segera mengambil tindakan cepat dan tepat.

Fakta menunjukkan, di Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat yang wanitanya sangat minim dalam berpakaian, tingkat pemerkosaan jauh lebih tinggi. 17,7 juta wanita AS pernah menjadi korban percobaan pemerkosaan. Data statistik itu dihimpun organisasi nasional AS untuk anti kekerasan; Rape, Abuse, and Incest National Network (RAINN), setiap menit terjadi 24 pemerkosaan di Amerika (AS). Amerika Serikat (AS) justru berada diurutan ke 57 dalam survei. Dari jumlah itu, 2,8 persen menjadi korban percobaan pemerkosaan. Sementara Arab Saudi yang sering menjadi kambing hitam justru menduduki peringkat 115 dari 116 negara yang disurvei.

Dalam sebuah syair disebutkan:

“Semua peristiwa (perzinaan) itu bermula dari memandang. Dan api yang besar itu berasal dari percikan api yang sangat kecil.”

Dari konteks syair tersebut dapat kita pahami bahwa tindakan pelecehan seksual yang tampak sangat sepele seperti memandang, sebenarnya dapat menyulut perbuatan yang sangat besar lagi, yaitu seperti terjadinya perzinaan dan pemerkosaan. Untuk itulah Nabi Muhammad SAW. menganjurkan kepada umatnya untuk menikah.  Hal ini tentunya dimaksudkan untuk mencegah dari perbuatan zina. Meskipun pernikahan dalam agama Islam bukan hanya sekedar untuk memenuhi hasrat seksual. Nabi Muhammad SAW. bersabda:

“Dari Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah bersabda kepada kami: Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kamu yang sanggup menikah, maka menikahlah, karena nikah itu dapat menundukkan pandangan dan membersihkan kemaluan maka barangsiapa yang belum mampu, hendaklah mengerjakan shaum (puasa) karena shaum itu dapat mencegah dari perbuatan zina.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadist di atas merupakan salah satu cara yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. bagaimana seharusnya nafsu syahwat atau hasrat seksual itu disalurkan dengan tidak menyalahi aturan agama Islam yang telah digariskan.

Wa’allahu a’lam…

Note :

(lihat: http://www.nationmaster.com/graph/cri_rap-crime-rapes) untuk data statistik survei pemerkosaan di dunia.

Author Description

admin

No comments yet.

Join the Conversation