Lentera Kehidupan

Lentera Kehidupan

Malam ini aku menelusuri jalan jalan ibu kota yang lalu lalang kendaraan tiada henti seakan kehidupan di sini tak pernah mati. Malam ini bulan begitu terang dan bintang bintang berlarian kesana kemari di atas sana. Bayanganku segera menjauh beberapa tahun yang lalu. Tahun di mana lampu lampu tak semengah hari ini dan jalan ibu kota tak seramai ini. Bayanganku terus menjauh dan semakin jauh hingga akhirnya aku sendiri tak sadar waktu ini mengembalikanku pada beberapa tahun yang lalu dimana semuanya tak serumit hari ini pada akhirnya.

 

Ba’da maghrib sebelum hari ini ada, waktu lalu saat semua tak serumit hari ini. Aku menapaki jalan jalan setapak, melewati garis garis waktu yang membentang dari barat hingga ke timur dari utara hingga selatan dan angin malam yang hilir mudik melewatiku. Seperti hari hari kemarin, aku menapaki jalan ini, melewati gang rumaku, melewati jalan raya lalu lurus terus hingga melewati rumah sakit dan terus berjalan setapak demi setapak. Sepanjang jalan seraya hatiku selalu mengingat nama-Nya dan terus membayangkan pertemuan dengan kekasih hati, guruku. Jalan ini seakan menjadi saksi bukti cinta seorang murid pada sang guru.

 

Terus aku lewati pertemuan dan pertemuan disetiap harinya hingga tidak ada yang kunanti selain pertemuan ba’da maghrib. Dan aku masih harus berjalan melewati jalan jalan setapak hingga sampai di jalan kecil menuju surau. Gelap. Begitulah pemandangannya. Waktu itu tidak seterang hari ini dimana banyak pendakwah pendakwah muda yang berkeliling di jalan jalan, yang terus menggembara mengajarkan kebaikan. Waktu itu masih gelap, dan yang kulihat hanya kegelapan saja.

 

Hingga beberapa langkah menuju pintu yang kulihat hanya kegelapan. Aku mencoba mendekat ke pintu, ku getok pintu itu.. tok..tok..tok tak ada yang menjawab hingga aku memberanikan diri membuka pintu itu, gelap tapi tak masalah bagiku karena sinar bulan terang sekali dan bintang bintang masih bahagia berlarian kesana kemari. Setelah aku masuk, seperti biasa aku mencoba menyalakan lampu minyak yang ku tempel tepat di atas tembok tempat kami duduk. Aku siapkan alas duduk untuk guruku, sebuah sejadah berwarna kelabu yang warnanya telah usang, kainnya tipis dan benang teurai satu persatu harapanku agar nanti guruku tak kedinginan jika kulitnya bersentuhan langsung dengan lantai yang tak berubin. Tak hanya kugelar sajadah untuk guruku. Aku ambilkan juga lekar, sebuah meja kecil yang terbuat dari kayu. Aku ambil beberapa lekar untuk aku dan untuk guruku serta teman temanku yang sepertinya sebentar lagi akan tiba.

 

Setelah beres merapikan semuanya untuk malam ini, aku lekas mengambil wudhu di belakang surau dengan sumur tua yang harus aku timba dulu airnya sebab tak ada air di bak. Krek..krekk itu bunyi katrol tua yang palingggg aku rindukan. Selesai berwudhu aku mengambil kitab di lemari. Hari ini jadwal belajar kitab Irsyadul Anam.

 

Aku kembali lagi ketempat, ku buka kitabku yang hampir habis karena rapuh dimakan rayap, maklum bertahun tahun kitab ini tak pernah diganti untuk setiap santri. Turun temurun hingga saat ini.

 

Aku buka lembar per lembarnya, aku coba membaca ulang apa apa yang telah dibaca dan dikaji di waktu waktu sebelumnya, sambil menunggu teman dan guru guruku. 10 menit berlalu guruku datang sembari membawa lentera, tidak seperti yang aku tempel di tembok, beliau membawa penerangan, lentera kehidupan namanya. Penerangannya seakan menjadi kobaran semangatku untuk terus berada di jalan ini. Jalan yang nyatanya sulit ketika aku sudah memilih jalan ini, jalan yang nyantanya tidak mudah dan selalu jatuh bangun dibuatnya. Kulihat lagi wajahnya ah wajah ini, wajahnya seakan menyandingi rembulan dan aku selalu jatuh cinta setiap kali bertemu bahkan ketika pertemuan pertama cintaku tak pernah berkurang sedikitpun hingga saat ini.

 

Hingga akhirnya aku harus menerima kehidupan yang sebenarnya tidak ada lampu minyak yang harus aku tempel di tembok, tidak ada bak kosong dan harus menimba di sumur tua, tidak ada kitab yang dimakan rayap, semua berganti detik demi detik hari demi hari. Rinduku seakan tak dizinkan lagi untuk memandangnya, ah hanya sekadar bersua dan menanyakan kabar dari masing masing kita. Pada akhirnya aku harus pulang, pertemuanku sudah selesai. Pelajaran hari ini kita cukupkan sampai di sini, semoga nantinya kita terus saling mendoakan. Aamiin jawabku. Bagiku surau ini tak pernah ada tandingannya bahkan sekelas idb2 lantai sepuluh. Aku berjalan lagi tapi kali ini bukan jalan setapak atau gang gang kecil. Kali ini aku harus berjalan menapaki ruang ruang kelas, lingkaran lingkaran kebaikan untuk terus bisa menghidupan kebaikan itu sendiri sebab aku sadar kebaikan itu bukan datang dari diriku, ia datang lewat lentera kehidupan yang sinarnya tidak hanya menyinari jalanku tapi juga rongga dada dan aliran darah yang jalan ke seluruh tubuhku.

 

“coba buka lagi Q.S Muhammad:7, Q.S Al-fushilat:30. Ujian kita emang beda beda tapi muaranya 1, keyakinan kita sama Allah, mencakup kesabaran dan keikhlasan kita. Bahkan andai kamu tau, ada seseorang di luar sana yang tidak memikirkan diri sendiri demi kebahagiaan orang lain, demi mensyiarkan Islam dimanapun dia berada. Memang kampus bukan satu satunya tempat kita untuk berdakwah tapi di mana lagi? Sedangkan Allah menempatkan kita di sini saat ini dan bukankah kita sendiri yang memilih jalan ini? Apapun yang kita hadapi, tenang dan percayalah ada tangan tangan yang membantu menguatkan pundak kita, menggenggam tangan kita agar senantiasa berjalan beriringin. Yakinkan hati bahwa Allah Maha Sebaikbaiknya Penolong, Maha Sebaikbaiknya Pemberi Rezeki, bukankah dakwah adalah cinta? Dan cinta akan meminta segalanya dari dirimu? Kuatkan hatimu dik” -dari seseorang pada adiknya.

Author Description

admin

No comments yet.

Join the Conversation