Jika Hidup itu Pilihan, lalu gimana dengan Takdir?

Jika Hidup itu Pilihan, lalu gimana dengan Takdir?

Jika Hidup itu Pilihan, lalu gimana dengan Takdir?

Farhan Hanafi
Kepala Departemen Qur’an FSI Al-Biruni 2018

Semua orang pasti tau bahwa hidup itu pilihan. Karena setiap detik waktu yang kita lalui, setiap langkah yang kita ambil, itu tidak jauh dari satu pilihan yang kita ambil dari sekian banyak pilihan. Seorang mahasiswa yang baru saja selesai kuliah, kemudian ada temannya yang mengajaknya nongkrong, lalu dia tahu – pada saat yang sama – ada kajian di fakultasnya. Jika memilih untuk datang kajian, berarti dia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya yang kosong itu dengan sesuatu yang bermanfaat. Tetapi, bisa aja dia lebih memilih untuk nongkrong karena saking letihnya kuliah. Semua itu bergantung pada pribadi masing-masing.

Lalu apa hubungannya dengan Takdir? “Katanya semuanya udah ada ketentuannya. Katanya semua udah tertulis di lauhul mahfudz. Jika hidup ini pilihan, lalu gimana dengan ketentuan-ketentuanNya? Gimana tentang takdirNya?”. Sampai suatu saat seorang teman pernah bertanya, “jika semuanya udah tertulis di lauhul mahfuzh, berarti orang-orang yang jahat, yang suka maksiat, atau bahkan yang gak tau Islam, itu gimana ? Berarti dia begitu karena udah tertulis di lauhul mahfudz dong, bukan karena dia yang mau?”.

Berat bagi saya untuk menjawabnya. Pertanyaan seperti tadi itu bisa jadi bahan instrospeksi untuk diri saya, dan mungkin juga para pembaca. Sudahkah kita benar-benar beriman kepada Alloh subhanahu wata’alaa secara total? Sudahkah kita mengimani segala ketentuan-ketentuannya?

Ustadz Felix Y. Siauw di salah satu subbab dalam bukunya yang berjudul “Beyond The Inspiration” menyinggung terkait pertanyaan-pertanyaan tersebut (di alinea kedua). Ketika kita mengira bahwa semua sudah Alloh tetapkan di lauhul mahfudz-Nya sehingga sesorang bisa menjadi jahat itu karena Alloh yang tentukan, maka pertanyaannya sekarang adalah “ketika Alloh subhanahu wata’alaa menciptakan Surga dan Neraka, apakah Alloh sudah menuliskan daftar nama-nama yang akan masuk kesana ?” Seandainya nama kita sudah terdaftar untuk masuk Neraka, untuk apa kita capek-capek beramal? Amalan sebanyak apapun pasti bakalan sia-sia, karena ujungu-ujungnya ya Neraka juga. Sebaliknya, jika nama kita sudah terdaftar untuk masuk Surga, tanpa beramal dan beribadah pun kita pasti bakalan masuk surga. Bahkan banyak maksiat pun, kita akan tetap masuk Surga karena Alloh sudah tetapkan nama kita di pintu Surga-Nya.

Sebenarnya kita semua harus tau terlebih dahulu bahwa dalam masalah takdir, kita tidak boleh mencampuradukkan antara aktifitas Alloh dan aktifitas manusia. Maksudnya aktifitas Alloh gimana sih? Aktifitas Alloh itu meliputi 3 hal, yakni Ilmu Alloh, yaitu Alloh subhanahu wata’alaa sudah mengetahui semua kejadian/peristiwa yang telah, sedang, dan akan terjadi; Kehendak Alloh, yaitu semua yang terjadi di muka bumi ini ialah atas kehendakNya; dan Lauhul Mahfudz, yaitu bahwa setiap yang terjadi di muka bumi telah tertulis dalam Lauhul Mahfudz. Dan memang setiap manusia dikarunia akal yang luar biasa sehingga menjadi makhluk yang paling sempurna, tetapi Aktifitas Alloh tidak akan mampu dijangkau oleh akal manusia. Ada saatnya otak kita ini mentok, yaitu ketika mencoba mengkorelasikan antara Aktiftas Alloh dan aktiftas manusia.

تَفَكَّرُوا فِي ألاَءِ الله وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِي الله عَزَّ وَجَلَّ
“Berpikirlah pada makhluk-makhluk Alloh dan jangan pada Dzat Alloh.” (HR. Thabrani dan Al Baihaqi)

Sekarang jika dibalik pertanyaan di awal tadi, “kalo semuanya sudah Alloh tentukan, trus gimana dengan pilihan-pilihan hidup kita?” Ikhwah fillah, kita harus tau bahwasannya Alloh subhanahu wata’alaa tidak hanya menentukan atau menetapkan segala hal yang ada di muka bumi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada manusia untuk memilih. Karena Alloh telah berfirman :
وَهَدَيْنَاهُالنَّجْدَيْنِ
“Dan Kami telah menunjukan kepadanya dua jalan.” (Q.S. Al Balad [90] : 10)

Jadi sebenarnya, Alloh subhanahu wata’alaa telah memberikan kepada kita dua pilihan. Dan Alloh tidak memaksa kita dalam memilih dua jalan yang Alloh subhanahu wata’alaa sediakan itu. Memilih untuk Hijrah atau tidak ? Beramal baik atau tidak ? Mau menerima hidayahNya – yang berupa Al Quran – atau tidak? Mau menjalankan perintahNya atau tidak? Mau mengejar RidhaNya atau tidak/ Semua itu pilihan kita. Tinggal bagaimana kita memilih pilhan-pilihan tersebut dengan bijak. Jadi ketika dia bermaksiat, atau menjadi jahat, itu bukan karena Alloh yang menginginkan dia untuk berbuat jahat, tetapi dia sendiri yang memilih untuk melakukan itu. Nggak ada urusannya sama Aktifitas Alloh. Alloh subhanahu wata’alaa pun sudah memfitrahkan manusia untuk cenderung kepada kebaikan, bukan kepada keburukan.

Intinya, sekali lagi, ini bisa jadi bahan untuk introspeksi diri kita masing-masing. Karena ternyata sebagian besar dari kita masih ragu dan takut akan Kebesaran dan Ke-Esa-an Alloh subhanahu wata’alaa. Alloh Maha Mengetahui akan segalanya. Tugas kita hanyalah memilih jalan-jalanNya dan melakukannya dengan sepenuh hati.

Author Description

admin

There are 1 comments. Add yours

  1. 31st Maret 2018 | Dyt says: Balas
    Mantap... Lanjutkan..

Join the Conversation