Jangan Seperti Kami, Nak

Jangan Seperti Kami, Nak

Jangan seperti kami nak

Hari yang saya lalui ketika menuntut ilmu, selalu menyenangkan, bahkan ketika saya tidak mampu menyerap ilmu yang diajarkan, menggali sesuatu dan menemukannya meskipun penuh kepayahan adalah hal yang menarik. Ibu saya bilang kalau menuntut ilmu tidak hanya disekolah, segala event yang memberikan pengetahuan dan pemahaman ialah tempat menuntut ilmu, ujarnya ketika saya masih kecil.

Terlahir dari bapak yang berdarah Padang, dan ibu yang berdarah Jogjakarta, membuat saya yang menjadi anak sulung mereka, bertingkah lebih aktif di lingkungan saya, karena dirumah bapak yang selalu semangat dan ibu yang tiada henti menasehati ketika ada ketidak beresan di anaknya, membuat saya termotivasi untuk melakukan apa saja yang saya senangi, asal ibu setuju dan bapak ridho.

Saya amat menyukai belajar, bagi saya menjadi tahu akan suatu hal akan mengantarkan siapa saja kepada keberuntungan. Saat kecil saya sempat bersekolah di Jogja, ketulusan hati para guru di sekolah saya kala itu membuat saya termotivasi untuk menjadi guru seperti mereka, karena menjadi guru dimata saya adalah seperti orang yang memberi air kepada mereka yang kehausan, sangat mulia.

Kegemaran saya belajar bukanlah paksaan dari orang tua saya, orang tua saya bukanlah mereka yang menuntut ilmu sampai jenjang yang tinggi, ibu saya tamatan SI PGSD dan bapak saya yang tidak mampu menamatkan SLTA di masanya, hanya memberi semangat dan memberikan doa. Namun semangat yang diberikan bukan sekedar verbal saja, bapak saya selalu mendukung apa saja yang membuat saya lebih berprogress, ketika saya ingin lomba atau apa saja, bapak saya tidak akan membantu dengan keilmuan yang ia miliki, atau dana, karena kami bukan lah orang yang selalu berkecukupan, maka bapak akan mendukung saya dengan mengantar anaknya kemanapun tanpa telat dan dengan jaminan keselamatan 100%, dan dengan kata kata “anak bapak pinter”, bagi saya hal tersebut sudah lebih dari dukungan apapun.

Lain bapak, lain halnya ibu, ibu selalu menasehati saya agar tidak terlena dengan apapun, tidak dengan kecerdasan, harta maupun tahta, beliau selalu berkata agar melihat dari sisi yang lain, ibu saya hanya memberikan pujian singkat ketika saya mendapat pencapaian apapun, dan menyemangati dengan penuh ketika saya berkompetisi apapun, tidak pernah memarahi saya ketika saya bahkan mendapat nilai 0, dan biasa saja ketika saya mendapat nilai 100. bagi saya, diperlakukan seperti itu adalah hal yang terbaik yang dirasakan oleh anak, karena kita jadi tidak takut untuk mencoba meskipun riskan gagal.

Hal itu yang mendasari segala aktifitas saya hingga di SD saya berhasil memenangkan olimpiade matematika tingkat kabupaten, menjadi lulusan terbaik. Ketika SMP menjadi peserta terbaik di pelantikan pencak silat remaja sejabodetabek, dan selalu masuk 5 besar saat ranking. Ketika SMK, saya ikut organisasi OSIS dan Rohis, tanpa turun peringkat di setiap semester, kalau tidak ranking 1 ya ranking 2, tak luput untuk mengikuti LKS SMK di setiap tahun, dan menjadi lulusan terbaik di jurusan pada tahun 2014.

Hal yang sedikit menyakitkan namun harus saya terima adalah, dikala lulus SMK saat itu, saya sangat ingin melanjutkan kuliah dengan jurusan yang sama, Design Grafis di politeknik/universitas, 2 try out yang diadakan perguruan tinggi untuk siswa, menyatakan saya bisa melanjutkan ke perguruan tinggi tersebut, dan mendapat beasiswa 80% semasa kuliah, tanpa tes lagi, karena saat try out saya adalah peraih nilai tertinggi di 2 try out tersebut. Namun karena keadaan ekonomi keluarga, dengan berat hati saya tidak mengambil kesempatan emas tersebut, saat itu ibu saya masih menjadi guru honorer, dan bapak adalah supir pribadi. Akhirnya saya memutuskan untuk kerja di salah satu perusaahan swasta di Jakarta Pusat, karena saya menyadari keadaan sulit tersebut, bukanlah keadaan yang pas untuk menuntut ilmu, mengalah untuk menang dikemudian hari.

Pada januari 2015, ibu saya diberi rezeki oleh Yang Maha Kuasa untuk menjadi PNS dan hal tersebut membuka peluang saya untuk kembali menemukan kesenangan di lingkungan akademisi. Saya pun resign dari tempat kerja dan membeli beberapa buku SBMPTN, saya mempelajarinya kurang lebih selama 5 bulan, di rumah, tanpa bimbel atau privat berbayar, saya optimis saya bisa kuliah di september tahun 2015, dan Allah mengabulkan itu dengan mengantarkan saya ke kampus pergerakan ini.

Karena orang tua saya menyanggupi untuk membiayai saya kuliah akhirnya saya sudah berniat untuk tidak bermain main ketika berkuliah, karena waktunya hanya 4 tahun, selepas itu saya harus menjadi sukses untuk orang tua saya. Setiap pelajaran saya pelajari dengan baik, bolos saja saya sangat amat pertimbangkan, jika hanya sakit flu, dan masih sanggup berjalan saya akan kuliah. Beberapa lomba saya ikuti, dan selama tidak mengganggu jadwal kuliah akan saya tekuni, sampai beberapa prestasi saya raih di setiap semesternya, diantaranya adalah menjadi Mawapres Juara 3 FT tahun 2017.

Keseharian saya yang tadinya pulang – pergi kuliah jakarta bekasi, menjadi anak kos kosan, bagi saya hal tersebut bukan hanya menjadi peluang saya untuk lebih banyak bereksperimen dalam hidup, juga menjadi peluang untuk menambah pemasukan, ketika belum sibuk mengajar privat, saya senang berjualan kue basah, untungnya lumayan untuk hidup di esok hari. Saat ini, kegiatan saya menjadi guru privat yang hampir tiap malam mengajar, mengajar kan impian saya sejak lama, pasti sangat saya senangi dan sukai. Namun hal tersebut tidak membatasi kegiatan belajar dan prestatif saya, saya tetap belajar walaupun jam tidur berkurang, asal waktu masih 24 jam, kita bisa melakukan apa saja.

Termasuk kegiatan mawapres ini, telah saya persiapkan jauh jauh hari, alhamdulillah bisa goes to Universitas, kata ibu saya dan bapak saya “kamu akan jadi orang sukses kan rul ? gak kayak ibu dan bapak?” saya iyakan dan saya lakukan apapun asal bisa menuju sana. Ajang ini saya niatkan untuk bisa menaikkan derajat orang tua saya, dan menambah kompetensi saya. Ibu dan bapak selalu mendoakan yang terbaik, saya hanya berusaha yang semaksimal mungkin, Allah yang menentukan. Lihat ibu, bapak, Nurul akan bikin ibu dan bapak lebih bangga. Bismillah.

Author Description

admin

There are 1 comments. Add yours

  1. 8th April 2018 | Noname says: Balas
    Waaah inspiratif sekali ka, terima kasih atas tulisannya..

Join the Conversation