Bisakah Kami Menirumu, Mush’ab?

Bisakah Kami Menirumu, Mush’ab?

Oleh: Muhammad Fajri Abdullah
Kadept. IMC FSI Al-Biruni 2018

Masa muda, masa remaja, masa yang berapi-api kalau kata Bang Rhoma. Banyak kisah yang terjadi di jenjang ini. Dari yang berkonten positif hingga negative. Yaa kalau kata kebanyakan orang ini adalah jenjang yang berada di puncak produktifitasnya. Maka tak heran kalau kita lihat diberbagai sudut pandang media, yang muncul sebagai aktor utamanya dari kalangan pemuda. Kuat? Tentu. Cerdas? Ya, karena masih fresh. Ambisi? Pastinya dengan semangat yang membara. Produktif? Apalagi. Dan masih banyak lagi karakter yang dimilikinya.

Mungkin sudah bosan juga kita mendengar kabar bahwa remaja-remaja khususnya di Indonesia melakukan catatan-catatan buruk. Fenomena bunuh diri karena diputusin pacar yang katanya udah mirip suami istri. Nangis histeris karena gabisa ketemu artis. Bahagia gembira karena bisa handshake sama idola. Tawuran karena masalah yang ringan; mengganggu pacarnya atau karena ejekan. Walaupun saya yakin, masih banyak orang yang shalih-shalihah seperti para pembaca di dunia ini. Saya khawatir kalau saja berita yang lebih terekspos adalah berita-berita buruk ketimbang yang baik.

Itu sedikit potret remaja Indonesia saat ini, sudah pastinya ada yang baik dan ada pula yang buruk. Kalau saja semua baik, dimana ladang amal kita untuk menyeru kebaikan? Yaa itu semua sudah jadi sunnahtullah-Nya.

Di zaman now ini, masihkah bisa kita bertemu dengan sosok pemuda belia seperti pada zaman Rasulullah? Selayaknya Mush’ab bin Umair misalnya. Sosok pemuda nan tampan, bersih, baik hatinya walau belum masuk Islam, bahkan menjadi orang yang paling wangi seantero Kota Mekkah. Ibarat kata, kalau Mush’ab lewat depan rumah seseorang, lalu orang tersebut keluar rumahnya selang beberapa menit. Wangi harum beliau masih tercium. Sudah tentu orang itu tau bahwa yang barusan lewat ialah orang yang paling wangi di Mekkah. Wajahnya tampan dan rupawan, bahkan karena ketampanannya itu, ada yang meriwayatkan bahwa beliau mirip dengan Rasulullah saw. Ya! Pemuda itu adalah Mush’ab bin Umair.

Mush’ab merupakan orang yang didamba-dambakan para penduduk Mekkah, bagi kaum hawa didambakan karena ketampanan dan baik hatinya. Bagi kaum adam didambakan karena seperti sosok yang sempurna. Bergelimang harta, baik tutur katanya, cerdas, wangi, orang tuanya sangat menyayanginya maka seringkali dimanjanya. Apapun yang dia minta pasti didapatnya, karena orang tuanya merupakan orang terkemuka.

Suatu ketika Mush’ab bin Umair mendengar kabar bahwa ada sosok manusia yang memiliki gelar Al-Amin. Perkataannya sangat lembut, akhlak dan perbuatannya begitu mulia. Membawa kabar bahwa manusia tersebut mengajak penduduk Mekkah untuk berada dalam jalan yang benar. Dialah Muhammad Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam.

Rasa penasaran hinggap dalam benak Mush;ab, karena beliau merupakan orang yang memiliki rasa penasaran tinggi. Hingga pada suatu waktu beliau pergi ke rumah Arqam bin abil Arqam, tempat biasa Rasulullah dan sahabat-sahabatnya melaksanakan halaqah. Diterimalah kehadiran Mush’ab oleh Rasulullah, dan lansung bergegas duduk ia di sebelah Rasulullah dan sahabatnya. Lantaran dengan izin Allah Yang Maha Pemberi hidayah begitu tersentuh hatinya ketika mendengar perkataan-perkataan Rasulullah, hingga munculah rasa keyakinan pada dirinya untuk segera mengucap kalam Asyhadu’alaailaha illaallahu wa asyhadu’anna muhammadarasulullah.

Perasaannya semakin mantap ketika beliau berstatuskan Islam, rasanya tenang dan tentram. Tapi ada satu hal yang membuatnya khawatir. Ketika Ibunda tercinta yang paling menyayanginya mengetahui jikalau Mush’ab sudah meninggalkan agama nenek moyangnya. Hanya itu tantangan terbesar dalam dirinya di awal keislamannya. Hingga singkat cerita sang Ibunda mengetahui keislaman Mush’ab, sungguh marah bukan kepalang ibunda mengetahui hal tersebut. Berbagai macam dia lakukan agar Mush’ab kembali menyembah Tuhan nenek moyangnya. Dari mogok makan hingga mengurung Mush’ab dari keramaian, tetapi Mush’ab tetap kokoh dalam pendiriannya meskipun dalam hatinya sedih lantaran sang ibunda berbeda keyakinan dengannya. Puncaknya ialah ketika Ibunda tidak mau mengakui Mush’ab sebagai anaknya. Disini kita bisa melihat bahwa betapa gigihnya sang ibunda mempertahankan agama nenek moyangnya dan keyakinan Mush’ab yang abadi dalam mengazzamkan dirinya untuk tetap teguh dalam mentauhidkan Allah.

Mush’ab bin Umair sejak kecil sudah terbiasa dimanjakan oleh orang tuanya, apapun yang ia minta selalu didapatkan. Mendapat banyak kenikmatan. Makanan yang selalu dihidangkan. Minyak wangi yang paling harum dan pakaian paling indah ia kenakan. Tapi itu semua telah sirna, lantaran Mush’ab berpegang teguh kepada Allah Yang Maha Esa. Kini ia hanya memakai kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan. Wanginya pun telah hilang, dan sudah tak bisa lagi untuk mendapatkan segala macam kemewahan. Itu semua bukan menjadi penghalang bagi Mush’ab bin Umair untuk tetap melanjutkan kehidupannya dalam berislam.

Sahabat, masih dapatkah kita menemui sosok pemuda seperti Mush’ab bin Umair? Bisakah kita menirumu, Mush’ab? Mungkin kebanyakan dari kita ketika memiliki kenikmatan semisal dirinya akan terlena dengan gemerlapnya dunia. Mudah meninggalkan seruan-Nya, karena kebutuhan hidupnya telah terpenuhi semua. Masa muda memang menjadi masa yang paling mudah dikuasai oleh hawa nafsunya, namun Mush’ab bin Umair menjadi sosok teladan bagi kita dalam berhijrah. Inilah yang dinamakan dengan hijrah. Sebuah hijrah yang nyata. Meninggalkan nikmat dunia, demi kebahagiaan di Surga.

Bisakah kita menirumu, Mush’ab?

#PenaFSI
#IslamMudaCool
#KitaKeluarga
#UkhuwahSampaiSurga

Author Description

admin

No comments yet.

Join the Conversation